
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bahwa perdarahan merupakan penyebab kematian ibu tertinggi nomor dua di Indonesia. Salah satu penyebab perdarahan yang dapat dialami oleh ibu hamil adalah letak implantasi plasenta yang abdnormal. Spektrum Plasenta Akreta merupakan abnormalitas implantasi plasenta yang dapat memberikan efek morbiditas hingga mortalitas pada ibu hamil. Prevalensi terjadinya kasus ini antara 1 banding 2000 ibu hamil di seluruh dunia. Di Indonesia angka kejadian plasenta akreta sepktrum berkisar 2% dari seluruh ibu hamil yang terlaporkan di tahun 2016, namun angka tersebut masih dapat mengalami peningkatan hingga beberapa tahun selanjutnya. Di RSUD Dr. Moewardi Surakarta tercatat mengalami peningkatan kasus spektrum plasenta akreta sebanyak 54% dari tahun Januari 2016 hingga Agustus 2020. Hal ini menjadi perhatian penuh bagi Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi dalam mengatasi permasalahan ini.
Pada tanggal 5 Januari 2021, RSUD Dr. Moewardi Surakarta melalui Tim Spektrum Plasenta Akreta, yang terdiri dari Dokter spesialis Obestetri dan Ginekologi, Bedah Torak Kardiak dan Vaskular, Anestesi Konsultan Anestesi Obstetri, serta residen Obstetri dan Ginekologi FK UNS telah berhasil melakukan teknik operasi yang tergolong baru bagi rumah sakit pusat pendidikan di Jawa Tengah. Teknik oklusi aorta dengan balon kateter dipilih sebagai prosedur yang mampu menekan jumlah perdarahan spektrum plasenta akreta selama pembedahan berlangsung. Ketua tim Spektrum Plasenta Akreta RSUD Dr. Moewardi Surakarta dr. Eric Edwin Yuliantara, Sp.OG, KFM mengatakan bahwa prosedur yang dipilih kali ini dapat menjadi batu loncatan yang dapat menekan jumlah perdarahan sehingga morbiditas bahkan mortalitas ibu akibat perdarahan dapat berkurang.
Dr. dr. R. Th. Supraptomo, Sp.An, KAO dan dr. Darmawan Ismail, Sp.BTKV, sebagai tim pelaksana pembedahan tersebut, mengatakan bahwa selama prosedur berlangsung secara umum tidak dijumpai penyulit, hal ini karena tim telah mendiskusikan kasus tersebut secara matang melalui beberapa pertemuan dan pemeriksaan terhadap pasien. Sehingga hambatan-hambatan yang mungkin ditemui sudah dapat diantisipasi terlebih dahulu. Teknik pembedahan dan oklusi aorta terlaksana dengan baik dan lancar, sehingga jumlah perdarahan yang diperoleh tergolong minimal dibandingkan dengan tanpa teknik oklusi aorta.
Harapan kedepan dengan keberhasilan prosedur oklusi aorta balon kateter untuk operasi spektrum plasenta akreta beberapa waktu lalu, dapat diimplementasikan secara menyeluruh untuk seluruh kasus abnormalitas implantasi plasenta, sehingga mampu memberikan outcome yang lebih baik lagi untuk pasien, dalam rangka menurunkan angka kematian ibu di Indonesia.